Mendengarkan tausiyah K.H. Yamin Mu’allim di Masjid Al Akbar, Sawo,
Gilang Babat membuat saya reflek meneteskan air mata. Materi tausiyah saat itu adalah tentang bacaan tasbih. Bacaan yang sejak
kecil kita hafal betul dan kita lantunkan rutin sebagai wirid tiap hari. Lalu,
apa istimewanya? Bukankah kita semua sudah terbiasa membaca tasbih?
Betul. Sejak kecil kita diajari membaca tasbih saat melihat sesuatu yang mengagumkan, aneh, atau
kejadian yang luar biasa. Dan merupakan kalimat thayyibah yang tak pernah
ditiinggalkan saat berdzikir bakda shalat wajib. Subhanallah 33x, Alhamdulillah
33x, dan Allahu Akbar 33x sesuai ajaran Rasulullah.
Dalam setiap
shalat, kita ruku’ dan membaca tasbih. Subhana robbiyal a’adhimi wabihamdih.
Saat sujud kita bertasbih lagi. Subhana robbiyal a’la wabihamdih.
Mahasuci Allah, Tuhanku yang Maha Tinggi, dan aku sujud dengan memuji-Mu. Kita
sudah hafal semua di luar kepala. Namun, cukupkah bagi kita hanya dengan hafal
dan melantunkannya?
Tasbih adalah bacaan “Subhanallah” yang merupakan pujian terhadap Allah. Kalimat “Subhanallah”
adalah frase dalam bahasa arab yang diterjemahkan menjadi “Mahasuci Allah”. Kalimat
sederhana yang sangat ringan diucapkan itu merupakan kalimat singkat yang kaya
makna.
Kata tasbih adalah bentuk masdar dari kata sabbaha-yusabbihu-tasbihan.
Pengertian tasbih adalah menyucikan Allah dari setiap yang jelek. Secara terminologi makna, tasbih adalah menyucikan
Allah dari segala keburukan dan dari segala perbuatan atau sifat yang tidak
sesuai dengan keagungan, kemuliaan, kasih sayang, dan kekuasaan-Nya atas segala
sesuatu.
Kata subhana
merupakan bentuk masdar bermakna penyucian. Subhanallah memiliki makna menyucikan
Allah dari segala kejelekan. Saat kita membaca tasbih, berarti kita berdzikir
mengagungkan dan menyucikan Allah dari segala kekurangan. Bertasbih kepada Allah berarti mengagungkan
dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan rububiah
dan uluhiyah-Nya.
Menurut KH. Yamin Mu’allim, saat membaca tasbih tersebut, selain kita memahasucikan Allah, kita juga mengakui betapa diri kita ini sangat kotor. Saat kita berkata “Subhanallah”, yang ada di hati kita adalah “Allah mahasuci, dan saya begitu kotor. Maka mohon bersihkanlah diri kami Ya Allah. Ampunilah segala dosa kami. Hanya Engkau yang Mahasuci.”
Ada pengakuan
diri yang kotor penuh dosa dan kesalahan. Dan hanya Allah yang Dzat yang
Mahasuci dari segala sesuatu yang tak layak bagi-Nya. Allah mahasuci dari
segala kesalahan apapun. Dan sebaliknya kita selalu diliputi dengan dosa dan
maksiat. Ada permohonan ampun atas segala dosa. Dan juga ada ketawakkalan yang
tinggi di dalam ucapan itu. Bukan hanya sekedar pujian di lisan, akan tetapi
dengan penuh perasaan, penghayatan, dan pengharapan kepada-Nya.
Dalam ucapan
tasbih itu, ada hati yang mengakui kelemahan diri dan jauh dari sifat sombong.
Maka belum mengucapkan tasbih seseorang, jika di dalam hatinya masih ada rasa
sombong atau membanggakan dirinya, apalagi tidak mengakui kelemahan dan
kesalahannya. Saat bertasbih, di dalam hati kita ada keimanan dan rasa syukur
yang dalam kepada Allah. Dengan demikian ada ridha, ikhlas, dan tawakkal di
dalamnya.
Dengan mengucapkan
“Subhanallah”, seorang hamba mengakui bahwa tidak ada sifat atau perbuatan
Tuhannya yang tercela ataupun kurang sempurna. Tak ada ketetapan-Nya yang tidak
adil, dan tidak ada kesalahan, kekurangan, dan kejelekan apapun. Dengan
demikian, yang ada hanya pengakuan diri sebagai hamba yang tunduk dan patuh
secara ikhlas dan sukarela mengikuti ketetapan-Nya.
Allah berfirman, “Maka
bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah
ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang
dan pagi.” (QA. Al Mu’min: 55).
Demikian pula di
dalam surat An Nashr: 3, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah
ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.”
Setiap saat kita
berpotensi melakukan maksiat. Melakukan sesuatu yang menyalahi kesucian Dzat
yang mahasuci. Dalam dua ayat di atas, perintah bertasbih dan memohon ampun
selalu beriringan. Demikian pula dalam beberapa ayat yang lain. Maka dengan membaca
tasbih, ada upaya hati kita selalu terjaga dan tidak terkotori dengan
kemaksiatan.
Melihat makna
yang demikian dalam dari kalimat tasbih, maka sungguh benar bahwa kalimat
tasbih ini disebut ringan di lidah, dan berat di timbangan. Sesuai sabda
Rasulullah, “Dua kalimat yang ringan di lidah, dan berat di atas timbangan,
yang disukai oleh Dzat yang Mahapemurah adalah Subhanallah wabihamdih, Subhanallah
al Adzim” (HR. Bukhari). Tentu saja dengan kalimat tasbih yang diucapkan dengan
pemahaman makna dan penghayatan yang dalam. Bukan sekedar terucap di lisan.
Subhanallah
walhamdulillah walaa ilaha illa Allah wallahu Akbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar