02 Juni 2018

Ringan di Lidah, Berat di Timbangan



Mendengarkan tausiyah K.H. Yamin Mu’allim di Masjid Al Akbar, Sawo, Gilang Babat membuat saya reflek meneteskan air mata. Materi tausiyah saat itu adalah tentang bacaan tasbih. Bacaan yang sejak kecil kita hafal betul dan kita lantunkan rutin sebagai wirid tiap hari. Lalu, apa istimewanya? Bukankah kita semua sudah terbiasa membaca tasbih?
Betul. Sejak kecil kita diajari membaca tasbih saat melihat sesuatu yang mengagumkan, aneh, atau kejadian yang luar biasa. Dan merupakan kalimat thayyibah yang tak pernah ditiinggalkan saat berdzikir bakda shalat wajib. Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x sesuai ajaran Rasulullah. 

Dalam setiap shalat, kita ruku’ dan membaca tasbih. Subhana robbiyal a’adhimi wabihamdih. Saat sujud kita bertasbih lagi. Subhana robbiyal a’la wabihamdih. Mahasuci Allah, Tuhanku yang Maha Tinggi, dan aku sujud dengan memuji-Mu. Kita sudah hafal semua di luar kepala. Namun, cukupkah bagi kita hanya dengan hafal dan melantunkannya?


 

Tasbih adalah bacaan “Subhanallah” yang merupakan pujian terhadap Allah.  Kalimat “Subhanallah” adalah frase dalam bahasa arab yang diterjemahkan menjadi “Mahasuci Allah”. Kalimat sederhana yang sangat ringan diucapkan itu merupakan kalimat singkat yang kaya makna.

Kata tasbih adalah bentuk masdar dari kata sabbaha-yusabbihu-tasbihan. Pengertian tasbih adalah menyucikan Allah dari setiap yang jelek.  Secara terminologi makna, tasbih adalah menyucikan Allah dari segala keburukan dan dari segala perbuatan atau sifat yang tidak sesuai dengan keagungan, kemuliaan, kasih sayang, dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. 

Kata subhana merupakan bentuk masdar bermakna penyucian. Subhanallah memiliki makna menyucikan Allah dari segala kejelekan. Saat kita membaca tasbih, berarti kita berdzikir mengagungkan dan menyucikan Allah dari segala kekurangan.  Bertasbih kepada Allah berarti mengagungkan dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan rububiah dan uluhiyah-Nya. 


Menurut KH. Yamin Mu’allim, saat membaca tasbih tersebut, selain kita memahasucikan Allah, kita juga mengakui betapa diri kita ini sangat kotor. Saat kita berkata “Subhanallah”, yang ada di hati kita adalah “Allah mahasuci, dan saya begitu kotor. Maka mohon bersihkanlah diri kami Ya Allah. Ampunilah segala dosa kami. Hanya Engkau yang Mahasuci.”

Ada pengakuan diri yang kotor penuh dosa dan kesalahan. Dan hanya Allah yang Dzat yang Mahasuci dari segala sesuatu yang tak layak bagi-Nya. Allah mahasuci dari segala kesalahan apapun. Dan sebaliknya kita selalu diliputi dengan dosa dan maksiat. Ada permohonan ampun atas segala dosa. Dan juga ada ketawakkalan yang tinggi di dalam ucapan itu. Bukan hanya sekedar pujian di lisan, akan tetapi dengan penuh perasaan, penghayatan, dan pengharapan kepada-Nya. 

Dalam ucapan tasbih itu, ada hati yang mengakui kelemahan diri dan jauh dari sifat sombong. Maka belum mengucapkan tasbih seseorang, jika di dalam hatinya masih ada rasa sombong atau membanggakan dirinya, apalagi tidak mengakui kelemahan dan kesalahannya. Saat bertasbih, di dalam hati kita ada keimanan dan rasa syukur yang dalam kepada Allah. Dengan demikian ada ridha, ikhlas, dan tawakkal di dalamnya. 

Dengan mengucapkan “Subhanallah”, seorang hamba mengakui bahwa tidak ada sifat atau perbuatan Tuhannya yang tercela ataupun kurang sempurna. Tak ada ketetapan-Nya yang tidak adil, dan tidak ada kesalahan, kekurangan, dan kejelekan apapun. Dengan demikian, yang ada hanya pengakuan diri sebagai hamba yang tunduk dan patuh secara ikhlas dan sukarela mengikuti ketetapan-Nya. 

Allah berfirman, “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QA. Al Mu’min: 55).
Demikian pula di dalam surat An Nashr: 3, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.” 

Setiap saat kita berpotensi melakukan maksiat. Melakukan sesuatu yang menyalahi kesucian Dzat yang mahasuci. Dalam dua ayat di atas, perintah bertasbih dan memohon ampun selalu beriringan. Demikian pula dalam beberapa ayat yang lain. Maka dengan membaca tasbih, ada upaya hati kita selalu terjaga dan tidak terkotori dengan kemaksiatan.
Melihat makna yang demikian dalam dari kalimat tasbih, maka sungguh benar bahwa kalimat tasbih ini disebut ringan di lidah, dan berat di timbangan. Sesuai sabda Rasulullah, “Dua kalimat yang ringan di lidah, dan berat di atas timbangan, yang disukai oleh Dzat yang Mahapemurah adalah Subhanallah wabihamdih, Subhanallah al Adzim” (HR. Bukhari). Tentu saja dengan kalimat tasbih yang diucapkan dengan pemahaman makna dan penghayatan yang dalam. Bukan sekedar terucap di lisan. 

Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illa Allah wallahu Akbar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar